Kemasan Da’wah dan Ibadah

Sebagian pemuda di zaman ini sibuk berpolitik, sebagian lagi mengidolakan tokoh-tokoh ekstrimis/ghuluw. Jika mereka bertemu dengan orang yang merayakan maulidur Rasul, maka mereka sendiri berkata, “Jangan menambah-nambahi! Sholat berjama’ah saja masih jarang, baca Al-Qur’an saja masih jarang, sudah mengerjakan hal-hal lain, sudah baca yang lain.”

Saya kurang mengerti bagaimana hukum berda’wah dengan cara mendirikan partai politik dan ikut meramaikan sistem demokrasi. Namun ketahuilah, berda’wah dengan mengadakan pembacaan maulid dan ceramah agama setiap hari seperti yang dilakukan oleh Majelis Rasulullah adalah baik. Mereka yang jarang ke Masjid jadi ke Masjid. Mereka yang jarang baca Al-Qur’an jadi mendengarkan ayat Al-Qur’an. Mereka yang jarang bersholawat jadi bersholawat. Mereka yang jarang mempelajari hadits jadi membaca dan mempelajari hadits. Mereka yang jarang menangis di hadapan Allah jadi meneteskan air mata dalam munajat. Hari demi hari, hati mereka terlembutkan.

Terkadang, kita perlu mengemas da’wah dengan kemasan yang menarik. Kita juga perlu mengajak ummat melakukan amalan-amalan sunnah seperti dzikir, shalawat dan lainnya dengan cara yang menarik dan praktis. Bukan sekedar memberikan mereka pengetahuan atas keutamaan suatu amalan, tetapi juga langsung mengamalkannya.

Sungguh aneh mereka yang menganggap bid’ah atas pembacaan rawi maulid, rathiban, yasinan, tahlilan, dan dzikir berjama’ah. Padahal mereka sendiri ikut dalam takbiran di Masjid, ikut dalam pembacaan Al-Ma’tsurot li Syaikh Hasan Al-Banna secara berkelompok, dan merayakan milad partai.

Seperti diajarkan oleh Syaikh ibnu ‘Atho-illah bahwa salah satu hikmah adanya berbagai macam ibadah sunnah adalah Allah Mahatahu bahwa manusia adalah pembosan, jika manusia itu bosan beribadah sunnah dengan cara yang satu, mereka boleh memilih ibadah sunnah yang lain, atau mereka mengemas beberapa ibadah sunnah dalam satu acara. Rathib dan Hizib tidak lain merupakan kumpulan dzikir atau pun ayat-ayat Al-Qur’an, atau shalawat dan istighfar yang memang diajarkan oleh Rasul untuk membacanya dan mewiridkannya.

Manusia bukanlah malaikat yang dapat beribadah hanya dengan rukuk saja, sujud saja, tasbih saja, dsb. Manusia perlu variasi. Sholat adalah salah satu contoh ibadah yang menggabungkan segala macam ibadah, kecuali sedekah. Maka banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan sholat dan menginfaqkan harta di jalan Allah secara bergandengan.

Dalam sholat ada puasa, bahkan puasa dari berbicara dengan makhluq. Dalam sholat ada syahadat, sholawat, istighfar, do’a, tasbih, dsb. Dalam sholat ada penjagaan atas aurat dan kethahiran. Orang yang sholat mestilah menghadap Ka’bah. Jika dilihat dari satelit, orang-orang yang sholat seperti mengitari Ka’bah. Tubuh mereka disini, tetapi ruh mereka berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Acara maulidur Rasul, yasinan, dan tahlilan merupakan penggabungan dari beberapa amalan sunnah. Dalam yasinan, masyarakat yang biasanya menonton tv setelah shalat Maghrib, mereka diajak untuk membaca surat Yasin yang pahalanya sama dengan membaca keseluruhan Al-Quran. Suatu amalan yang baik yang dilakukan dengan cara yang baik. Jika membaca surat Yasin secara berjama’ah ini bid’ah, maka membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang ada dalam Al-Ma’tsurot Al-Banna secara berjama’ah pun bid’ah. Jika mengirim pahala kepada mayyit dikatakan bid’ah yang sesat, lalu bagaimana dengan Rasul yang membolehkan menghadiahkan pahala kepada mayyit?

Usaha-usaha untuk membid’ahkan amalan-amalan ini hanyalah terbit dari mereka yang kurang paham syari’ah atau membenci syari’ah dengan kedok ‘pemurnian’, ‘pembaharu’, dan sebagainya.

9 Tanggapan

  1. Hadith yasinan

    setiap sesuatu ada hatinya, sesungguhnya hati Al-Qur’an adalah Yasin. Barangsiapa yang membacanya, maka seolah-olah ia telah membaca al-qur’an/ sebanyak 10 kali

    isnadnya maudhu

    (100 hadis palsu, Syeikh ihsan bin muhammad bin ‘ayis al-uthaibi )

    Apakah Anda percaya kepada Syaikh2 yg sudah kemasukan wahhabi/salafy?
    Mereka bicara soal sanad hadits, sedangkan sanad ilmu mereka saja masih dipertanyakan keshahihannya.
    Tafsiran mereka pun masih dipertanyakan kebenarannya.
    Hati2, maudhu berarti palsu. Jika ternyata itu hadits adalah shahih atau katakanlah dha’if, maka Anda telah mendustakan hadits Rasul, barangsiapa mendustakan hadits Rasul maka siapkanlah untuk menempati tempatnya di neraka. Hadits dha’if tetaplah hadits, perkataan Rasul. Jangan sembarangan mengatakan suatu hadits itu palsu.
    Lagi pula hadits itu tidaklah melarang pembacaan Yasin. Masa’ ada sih larangan membaca Yasin? Anda jangan mengharamkan apa2 yg dihalalkan apa lagi yg disunnahkan.
    Mereka berusaha menukil-nukil hadits atau pun menganggap palsu suatu hadits demi menghapus sunnah Rasul. Lalu siapa yg mereka mau ikuti? Iblis ‘kah?

  2. yaallah, saya kasihan sekali dengan yang punya website ini. sungguh racun sudah dijadikan 1 dengan darahmu tidak bisa dibersihkan dengan air menuju surga. dan daging mu seperti racun yang berbusa yang tidak bisa diobati menuju surga^^.

    kalau hadist palsu bukan perkataan dari rasul S.A.W ? apa diikuti juga dan disebut hadist dari rasul S.A.W? ^^

    semestinya adalah minta petunjuk dari allah segalanya.

    Yang bilang itu adalah hadits palsu ‘kan Anda dan ustadz Anda yg suka salah tafsir dan sok tau. Jangan2 Ustadz Anda juga ustadz palsu lagi. Soalnya sanad ustadz Anda itu ga jelas. Sedangkan hadits mengenai membaca Yasin itu dikutip juga oleh Habib Abdullah Al-Haddad yang sanad ilmunya sampai kepada Rasulullah SAW. Lagi pula, saya katakan lagi, tidak ada larangan untuk membaca surat Yasin di malam apa pun atau di hari apa pun. Racun telah merusak cara berfikir Anda hingga tidak bisa membedakan mana ustadz yg dapat diikuti dan mana ustadz palsu.

  3. tidak ada larangan membaca surat apapun dalam alqur’an. kapanpun bisa masuk semampu kita. tetapi membaca yasinan yg diskedulkan malam jumat yang seperti mesjid-mesjid tidak faham benar dengan hukumnya. apalagi disatukan dengan maulid. wa maulid tidak ada contohnya dan baca yasin seperti itu juga tidak ada contohnya. kenapa diikutin?^^

    Mengenai maulid telah kami bahas dalam artikel lain, dan juga telah didiskusikan. silahkan cari sendiri ya. saya belum sempat buat linknya di sini. Afwan. Harap maklum.

    Ok, Yasinan didawamkan, diwiridkan, diskedulkan, dijadwalkan, atau apa pun istilahnya, pada malam Jum’at apakah dilarang?
    Apakah Nabi melarang shahabat yg suka membaca Al-Ikhlash setiap shalat? Tidak. Hanya saja nabi tidak ingin makmumnya menjadi bosan, sehingga dianjurkan agar setelah Al-Ikhlash ditambah dengan surat lain. Kalau makmum zaman sekarang, sepertinya ga bosan tuh. Begitu juga dengan membiasakan membaca Yasin setiap malam Jum’at. Tidak ada larangan mengenai hal ini. Apalagi jika mereka kemudian menjadi cinta kepada surat Yasin seperti shahabat tsb cinta kepada Al-Ikhlash.
    Yang ga boleh itu mewiridkan nonton tv setiap selesai sholat maghrib, itu baru bid’ah namanya. Nonton tv kok jadi wiridan. Dari mana dalilnya? Hehehe…

    insyaallah ustad saya tidak palsu seperti yang anda pikirkan^^

    Hadits palsu itu sanadnya ga jelas. Ustadz yg ga jelas sanadnya, mungkin aja ustadz palsu. Kalau ustadz Anda itu memang ga palsu, coba sebutkan sanad guru2 dari ustadz Anda hingga ke Rasulullah SAW. Bisa?

    maaf ya, saya pernah mendengar dari video youtube seorang habib berbahasa malaysia. membicarakan soalan hukum bid’ah dibagi menjadi 2 ^^ yang tidak diajarkan harus dineracakan hukumnya dulu dan dibagi menjadi 2 lagi nanti. bukannya ditinggalkan malah disehubungkan pula dengan zaman rasul S.A.W semasa sholat, wallahualam itu benar apa tidak. dan itupun ada rasul S.A.W. bukannya tidak ada seperti sekarang. diterakhir khayatnya rasul S.A.W telah mewasiatkan islam sudah sempurna disampaikan. apalagi yang mau ditambahkan? kalau belum sempurna dan berlebihan sama seperti menentang ajaran Rasul S.A.W dan islam belum sempurna. seperti halnya dengan maulid. kalau anda tidak mengikuti maulid amal anda tidak sempurna sebagaimana keislaman anda. memang susah rasanya melepas maulid dan itu sudah tradisi. tapi anda harus berusaha untuk melepaskannya walaupun berat seperti apa. karena hukum allah lebih berat dan anda tidak akan dapat mengetahuinya dan tidak akan pernah bisa menggambarkan sereal rupanya. seperti halnya neraka. lain ya kalau menggambarkan sebagai atau berupa ancaman.

    yaallah berikanlah mereka hidayah dan bersihkanlah hati mereka. sesungguhnya mereka belum memahaminya dengan benar. amin ^^

    Ya, memang berat menyembuhkan orang yg terkena racun seperti Anda :)
    Anda tampaknya masih menolak pembagian bid’ah.
    “Kalau itu baik, niscaya para salafus shalih telah mendahului kita.” Tentu itu yg ingin Anda katakan. Benar?

    Begini deh… Anda jawab yg tegas ya…
    Di zaman Rasul, sholat di Masjid itu dengan memakai terompah ataukah mereka melepaskan terompah di luar Masjid? Saya tunggu jawabannya.

  4. Ok, Yasinan didawamkan, diwiridkan, diskedulkan, dijadwalkan, atau apa pun istilahnya, pada malam Jum’at apakah dilarang?
    Apakah Nabi melarang shahabat yg suka membaca Al-Ikhlash setiap shalat? Tidak. Hanya saja nabi tidak ingin makmumnya menjadi bosan, sehingga dianjurkan agar setelah Al-Ikhlash ditambah dengan surat lain. Kalau makmum zaman sekarang, sepertinya ga bosan tuh. Begitu juga dengan membiasakan membaca Yasin setiap malam Jum’at. Tidak ada larangan mengenai hal ini. Apalagi jika mereka kemudian menjadi cinta kepada surat Yasin seperti shahabat tsb cinta kepada Al-Ikhlash.
    Yang ga boleh itu mewiridkan nonton tv setiap selesai sholat maghrib, itu baru bid’ah namanya. Nonton tv kok jadi wiridan. Dari mana dalilnya? Hehehe…

    iya.. dan itukan ada Rasul S.A.W. yang dilakukan oleh kaum muslimin (tidak faham) sekarangkan adalah (bid’ah)berlebihan dengan membaca yasin harus dan wajib seperti diskedulkan pada malam juma’at kan tidak ada ajaran dari Rasul S.A.W. atopun para sahabatnya. ahsan anda membaca setiap hari sebagaimana anda cinta dengan surat yasin. dan bukan surat yasin saja ya.., tetapi semua isi al-qur’an terutama al-baqarah supaya jin dan setan dirumah anda kabur ^^ jadi tidak meracuni diri anda.

    Sopo sing bilang wajib? Sopo sing bilang ga ikut Yasinan iku doso? Sing doso iku sing ngelarang wong moco Yasin.

    Hadits palsu itu sanadnya ga jelas. Ustadz yg ga jelas sanadnya, mungkin aja ustadz palsu. Kalau ustadz Anda itu memang ga palsu, coba sebutkan sanad guru2 dari ustadz Anda hingga ke Rasulullah SAW. Bisa?

    coba anda membaca ya biografi Imam Asy-Syafi’i R.A dahulu ^^ Imam Asy-Syafi’i R.A pun pernah mengatakan pasalan kalau ada hadist palsunya.

    Masalahnya sekarang, ustadz Anda gimana? Apakah ustadz Anda itu ustadz yang berguru kepada guru yg terus bersambung kepada Rasulullah SAW hingga penafsirannya tidak keliru? Coba sebutkan sanad guru Anda itu. Kalau Imam Asy-Syafi’i, jelas ilmu beliau itu sanadnya bersambung kepada Rasul. Tetapi guru Anda bagaimana? Jangan2 sanadnya ga nyambung nih.

    solat menggunakan terompah itu adalah solat khouf dimasa perang mas.^^

    :mrgreen: Anda ini ga tau rupanya kalau Nabi Muhammad itu shalat di dalam Masjid tanpa melepas terompahnya. Malu2in almamater Salafy nih. Guru besar Anda, Syaikh Ibnu Taymiyah pasti malu punya murid seperti Anda.

    Dalam kitab Iqtidho-ush Shirothol Mustaqim Mukholafata Ash-habil Jahim, yang diterjemahkan Abu Fudhail dengan judul Jalan Islam Versus Jalan Setan, diterbitkan oleh Pustaka At-Tibyan pada Oktober 2001, halaman 333, Ibnu Taymiyah berkata: “Allah juga memerintahkan kita untuk shalat mengenakan sandal, untuk membedakan diri kita dari orang-orang Yahudi.”

    Anda tahu ‘kan bahwa Nabi Musa diperintahkan untuk melepaskan sandal sebelum masuk ke lembah suci Thuwa? Sedangkan dalam syariat kita, dibolehkan memakai sandal ke dalam Masjid dan shalat dg mengenakannya. Dan bahkan, Ibnu Taymiyah menyatakan bahwa ini adalah sangat dianjurkan untuk menghindari tasyabbuh.
    Apa alasan Anda melepas sandal di luar Masjid?
    Apakah menurut Anda hal itu baik? Lalu Anda lakukan hal itu? Sedangkan itu berbeda dengan kebiasaan Rasul? Jadi menurut anda, hal itu baik? Tetapi kok para salaf tidak mendahului Anda? Wah… bid’ah dong?

  5. Baca surat Yasin tiap ba’da maghrib & malam jumat tdk ada larangannya, begitu juga surat yg lain, spt: al-Ikhlas, al-Baqarah, al-Kahfi dll. Kenapa tdk baca surat yg lain yg juga ada fadhilahnya dan biar gak bosan baca Yasin terus spt kata anda & biar cinta pd semua surat al Quran, bahkan rasulullah menganjurkan baca surat al-Kahfi tiap jumat

    Mereka tidak bosan untuk baca Yasin, jadi biarkan saja. Shahabat Nabi tsb, ketika shalat sendiri, dibolehkan oleh Nabi untuk membaca Al-Ikhlash saja. Nabi berkata tentang dia bahwa dia akan masuk surga karena kecintaannya kepada Al-Ikhlash. Anjuran Anda tidak salah. Tetapi juga tidak mesti seperti itu. Karena nabi tidak berkata seperti yg Anda katakan itu. Memang benar Nabi menganjurkan membaca surat Al-Kahfi, tetapi di malam Jum’at, sedangkan Yasin dibaca pada hari Jum’at. waktunya boleh setelah setelah shubuh dan berakhir pada sebelum zhuhur. Demikian yg ada anjurannya. Di luar itu, maka masuk kepada anjuran umum membaca Al-Qur`an. Dan tidak ada larangan mewiridkan Yasin. kita boleh memilih surat mana saja untuk diwiridkan. Anda mau memilih untuk mewiridkan Al-Ikhlash tiap malam Jum’at… silahkan. Anda mau memilih untuk mewiridkan Al-Kahfi tiap malam Jum’at… silahkan. Anda mau memilih untuk mewiridkan Al-Mulk tiap malam Jum’at… silahkan. Anda mau memilih untuk mewiridkan Yasin tiap malam Jum’at… silahkan. Bacalah apa yang Anda sukai dari Al-Qur`an.

  6. Apa anggota jamaah surat Yasin yg selama ini anda ikuti sdh punya fikiran spt yg anda ungkapkan di atas? krn jk ada image bhw baca yasin hrs malam jumat atau ba’da maghrib dan hrs yasin yg dibaca mk itulah yg tdk benar & ini yg hrs dirubah. Jadi amalan mrk tdk hanya taqlid buta pd guru-2nya tp punya sandaran ilmu. Sebab telah umum di masyarakat muslim jk ada yg tdk ikut baca yasin di waktu yg mrk sepakati lantas org itu dicap sbg pengikut islam garis keras, islam aneh, tdk mau bermasyarakat dsb, lalu dikucilkan. Lalu apa bedanya dgn kelompok salafyin yg suka menghujat kelompok islam lain.

    Pak, yg hadir di ‘yasinan’ itu jumlahnya bertambah dan berkurang, di antara mereka itu kadang ikut kadang enggak. Ketika diundang tahlilan, kadang mereka datang kadang tidak. Ini sudah menunjukkan bahwa mereka tau akan hukum ‘yasinan’. Yang rajin datang itu bukan berarti menganggap acara itu wajib. Tetapi berbaik sangkalah, bahwa mereka ini mengejar keutamaan ibadah. Saya jarang ikut ‘yasinan’, tetapi saya tidak dikucilkan. Kenapa? Karena saya tidak mengharamkan acara ‘yasinan’. Yang dikucilkan itu mungkin orang2 seperti Anda. Kenapa? Karena Anda mengharamkan acara tersebut.

    Anda mau mengubah surat yg dibaca, silahkan. Buatlah kebiasaan yang baik. Misalnya Anda buat jama’ah tiap malam jum’at membaca surat Al-Kahfi, atau surat Al-Mulk, atau surat apa sajalah. Lalu diwiridkan, artinya setiap malam jum’at diusahakan didawamkan. Itu baik, dan bagus. Silahkan saja. tetapi acara yasinan itu juga baik dan bagus, tidak harus diubah. Yang harus diubah itu adlah kebiasaan buruk. Misalnya mendawamkan menonton tv setiap habis shalat maghrib. Mendawamkan nonton bola. Mendawamkan majelis gosip. Itu semua harus diubah. Lakukan taghyir terhadap yg demikian. Kalau yg sudah baik, tinggal ditambah. Misalnya setelah yasinan ba’da maghrib, Anda adakan ‘kahfian’, atau ‘qulhuan’, atau ‘mulukan’, atau acara lainnya yang baik. Tidak harus diubah.

    Selama mereka taklid kepada yg baik, tidak ada dosanya pak. Tapi kalau udah taklid kepada Iblis, itu baru ga boleh. Sebelum Anda tahu dalil shalat, Anda sudah shalat ‘kan? Apakah harus nunggu belajar dalil hukum shalat dulu, baru kemudian kita shalat? Nggak dong?
    Coba ingat2! Anda belajar shalat itu diajarkan haditsnya dulu atau gerakannya dulu? Anda tahu gerakan shalat dari orang2 yg shalat dan guru Anda ‘kan? Lalu Anda shalat. Setelah itu, barulah Anda baca hadits tentang orang yg salah dalam shalatnya. Lalu Nabi mengajarkan gerakan shalat kepada orang itu. Lalu Anda baru tahu bahwa gerakan shalat Anda selama ini adalah di dasarkan pada hadits tersebut. Anda taklid dulu, baru belajar dalilnya. Dan itu tidak dosa pak.
    Dan banyak kok ummat Islam yg shalat dengan gerakan yg umum kita lihat, tetapi mereka ga tau dalilnya. Mereka hanya taklid kepada guru2 mereka yg shalih, yg ilmu guru2 mereka itu memang bisa diikuti, diakui, dan sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW. Guru2 tersebut belajar bukan hanya dari kitab. Tetapi mereka telah bertemu dalam satu majelis ilmu dengan guru mereka. Guru dari guru mereka juga telah bertemu dengan gurunya. guru dari guru dari guru mereka juga telah bertemu dengan gurunya. Terus… hingga kepada guru yg telah bertemu dengan tabi’it tabi’in. Dan tabi’it tabi’in tsb telah bertemu dan mengambil ilmu dari tabi’in. Terus hingga shahabat yg telah mengambil ilmu dari Rasulullah SAW. Jika ada ustadz yg belajar kepada ustadz yg sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah, maka itu ustadz yg terputus sanadnya, dan mungkin saja itu adlah ustadz yg tidak bisa diikuti ilmunya, tidak diakui ilmunya. wallahu a’lam.

  7. Sopo sing bilang wajib? Sopo sing bilang ga ikut Yasinan iku doso? Sing doso iku sing ngelarang wong moco Yasin.

    ^^ tidak ada yang melarang membaca surat yassin, mas. bacalah kembali penjelasan saya.

    lainnya ^^ terserah anda saja.

    Ya udah, kalo ga ada yg ngelarang baca Yasin, biarin aja mereka baca Yasin. Yasin boleh dibaca kapan saja dan dimana saja, kecuali di tempat2 yg ga boleh dibacakan lafazh suci di situ, atau dalam kondisi berhadats besar, dsb. Mereka ini baca Yasin di Masjid atau Musholla. jadi biarkan saja, jangan dilarang2.

  8. ^^ racun bertebar ria dalam tubuh anda..

    Itu ‘kan menurut Anda. Bukan menurut Allah.

  9. Selama ini sy no coment pd org-2 yg sering yasinan, gak nglarang mrk yasinan, apalagi bilang ke mrk bhw yasinan itu haram, cuma anda saja yg ngomong kalo sy mengharamkan yasinan. Bahkan pd komentar saya pun tdk ada kata ‘haram’. Saya hanya ‘tdk ikut jamaah yasinan’ lalu dicap sbg islam nggak lumrah, aneh .

    Benarkah Anda dicap seperti itu oleh masyarakat hanya karena ga ikut yasinan? Atau mungkin karena hal lain? Atau itu hanya perasaan Anda saja?

    Bagi saya amalan itu adalah ittiba’ pd rasulullah, krn di zaman nabi gak ada amalan yasinan berjamaah maka saya juga gak melakukan apalagi mau ngadakan qulhuan, kahfian dsb spt kata anda. Kalo anda & jamaah anda mau ngadain krn menganggap itu baik ya silakan

    Ya udah, kalo memang Anda katakan ’silakan’. Berarti ga ada masalah lagi ‘kan mengenai yasinan?

Tinggalkan Balasan